Posts

Showing posts from November, 2025

Belum Ada Judul

Image
Saya mengikuti zoom sejak pukul delapan pagi tadi, hingga jam pulang kerja. Sebuah Zoom yang membahas perjalanan karier orang-orang. Jujur, saya tidak suka banyak bicara. Apalagi yang berbicara banyak. Saya cepat bosan. Saya lebih suka learning by doing. Sambil menjalankan, sambil bekerja, sambil memahami. Kalau saya tidak paham, toh, saya bisa mengulangi lagi.  Saya mengikuti zoom sejak pagi, sambil sesekali mengejar tanda tangan boss. Saya mengikuti zoom, sampai lupa turun istirahat. Iya, turun istirahat. Saya bekerja di lantai dua. Biasanya, kalau tidak ada kerjaan, saya turun. Kadang ke ruangan teman. Lebih sering ke kantin.  Pagi tadi, saya mengikuti zoom. Sepertinya zoom tersebut penting. Juga berkaitan dengan kerjaan saya. Namun, sekali lagi, saya tidak mengerti apa-apa. Saya tidak tahu apa-apa soal inovasi pejabat yang membuat aplikasi, katanya, namun ternyata google form. Saya, saya, saya sungguh tidak mengerti.  Saya mengikuti zoom sejak pagi, sampai...

Humba yang Tersisa di Kepala

Image
Saya mendapat banyak undangan pernikahan tahun ini. Dari teman, kenalan, rekan kerja, dan lain sebagainya. Terakhir, undangan pernikahan dari seorang teman yang saat ini masih akan tetap di Bali. Undangannya sederhana. Hanya berupa link, yang, orang-orang di tempat saya sepertinya akan benci bila diundang dengan cara demikian. Katanya, sih, ndedha patembi a¹. Mereka tidak menghargai¹.  Saya kemudian mereka-reka apa itu penghargaan, sebagai orang Sumba?  Barangkali, ia datang seperti seekor kuda, yang dibalas dengan seekor babi. Barangkali, ia hanya sepotong kain, yang dibalas dengan tikaman babi. Barangkali ia hanya sebuah Mamuli, yang dibalas dengan duduk lebih lama lagi. Ma'ta ka ta-patembi wangu, bha wa'da dha makawiadha². Supaya kita saling menghargai seperti kata tetua².  Singkatnya, patembi ini adalah fondasi penting yang menentukan cara masyarakat Sumba, seperti saya ini, untuk saling berhubungan dan menjalankan kehidupan adat yang sudah diwariskan turu...

Kopi Kananggar

Image
Ini kopi pertama di Kananggar. Barangkali, kopi satu-satunya, jika bukan karena perintah.  Ini kopi satu-satunya di Kananggar. Barangkali, kopi satu-satunya, jika mengingat puisi itu masih ada di sini.  Ini kopi satu-satunya di Kananggar. Barangkali, kopi satu-satunya, jika kau masih menyimpan luka.  Ini kopi satu-satunya di Kananggar. Ah, tidak. Maksud saya, ini kopi pertama di Kananggar. Barangkali, akan ada kopi kedua, ketiga dan seterusnya, jika yang datang-singgah, yang pergi hilang, tidak lagi dipikirkan.  Ini kopi di Kananggar. Diminum saat Kemarinnya sedang hujan. Diselesaikan saat hari ini turun hujan.  Ini kopi di Kananggar. Ia tidak lagi pahit. Katanya, itu karena kau menambahkan gula. . . Kananggar, 6/11/25.