Jodohku Diambil Tuhan
Cita-cita Umbu setelah lulus dari bangku SMA adalah ingin menjadi seorang imam. Katanya, biar bisa mengajak banyak orang kembali ke jalan-Nya. Sebab menjadi imam yang baik dan berkharisma mampu memberikan kesejukan tersendiri pada umat-Nya, seperti yang Umbu sering lihat saat pastor favoritnya sedang khotbah. Semua umat yang hadir untuk mengikuti perayaan Ekaristi terbawa suasana.
Ada yang tertawa terbahak-bahak saat pastor melucu, ada yang mendengar dengan penuh hikmat saat pastornya memberikan nasihat dan ada pula yang terharu meratapi hidupnya di dunia yang penuh dengan hingar bingar yang berwarna.
Ada yang tertawa terbahak-bahak saat pastor melucu, ada yang mendengar dengan penuh hikmat saat pastornya memberikan nasihat dan ada pula yang terharu meratapi hidupnya di dunia yang penuh dengan hingar bingar yang berwarna.
Umbu ingin sekali menjadi imam seperti idolanya itu. Pergumulan panjang dalam hatinya harus memaksanya untuk memilih; Antara pacarnya atau panggilan Tuhan. Kalau memilih pacarnya, berarti Umbu harus mengorbankan cita-cita dan panggilannya. Tapi kalau ia memilih panggilannya, berarti Umbu harus rela kehilangan pacarnya dan memberikan luka bagi Rambu.
Suatu hari Umbu pergi berdoa meminta petunjuk Yang Maha Kuasa agar ia diberi jalan keluar yang terbaik. Dalam doanya, Umbu berkata "Tuhan.... Aku tahu Engkau Maha Tahu. Karena itu, berikan Aku petunjuk-Mu agar Aku tahu masa depanku. Entah itu bersama Rambu atau bersama-Mu di rumah Bapa"
Setelah berdoa, Umbu merasa lebih legah dari sebelumnya. Ia merasa bahwa pergumulan-pergumulan dalam hatinya yang selama ini berkecamuk, sudah berkurang. Beban yang tersisa kini adalah Rambu. Ia belum berani untuk berbicara terus terang pada Rambu bahwa ia harus memilih panggilannya, mengikuti kata hatinya yang sudah ia cita-citakan.
Sejak berdoa meminta petunjuk dari Tuhan beberapa waktu yang lalu, Umbu tidak bisa tidur dengan nyenyak. Ia terus bergumul dalam hati. Mengingat dan menimbang bahwa betapa teganya dirinya menyakiti perasaan Rambu. Sebab, sampai detik ini sebetulnya ia masih takut kehilangan Rambu. Tapi ia juga takut cita-citanya tak dapat terwujud.
"Andai bisa memilih keduanya" kata Umbu dalam hati. "Sudah pasti Aku memilih keduanya. Tapi ini mustahil. Ini tidak bisa" lanjutnya dalam pergumulan malam itu. Kemudian Umbu terlelap.
Keesokan harinya setelah terbangun dari tidurnya, Umbu berdoa kepada Tuhannya dengan doa yang sama seperti malam itu di sebuah Kapela.
"Tuhan...." Katanya lagi dalam doa.
"Aku tahu Engkau Maha Tahu. Karena itu, berikan Aku petunjuk-Mu agar Aku tahu masa depanku. Entah itu bersama Rambu atau bersama-Mu di rumah Bapa"
Setelah berdoa, Umbu meraih ponselnya dan mengirim pesan singkat melalui WhatsAppnya kepada Rambu.
"Ntar sore kita lihat senja, yuk!!!" ajak Umbu.
Dari seberang sana Rambu membalasnya "di mana?"
"Di bukit Wairinding"
"Dengan siapa?"
"Kita berdua aja. Sudah lama kita tak melihat senja bareng, kan?"
"Iya sih... Tapi kok tumben ngajaknya tiba-tiba begini. Di tempat yang jauh lagi"
"Trus kamu tidak mau?" Tanya Umbu dengan sedikit memaksa. Ia tahu kalau pertanyaan ini tidak akan ditolak oleh Rambu.
"Bukan begitu juga sih. Tapi, biasanya kan kita nikmati senja di bukit Tenau dan kadang juga kita di Bukit Hiliwuku. Sekarang kok tiba-tiba kita akan ke Bukit Wairinding. Ada apa sebenarnya?" Balas Rambu dengan sedikit kecurigaan.
"Tapi Rambu mau kan?" Balas Umbu dengan sedikit rayuan.
"Iya" jawab Rambu singkat.
"Kalo begitu, kamu siap-siap sudah sekarang supaya kita jalan lebih awal dan tiba di sana pas senja"
"Oke, siap boss. Jangan lupa jemput tepat waktu" balas Rambu diikuti dengan tambahan emoji peluk dan cium. Kemudian Umbu membalasnya juga dengan emoji yang sama.
***
Senja di Bukit Wairinding kali ini terasa Special bagi Rambu. Ini pertama kalinya ia ke sana. Dan disambut dengan keindahan Bukit Wairinding yang sangat eksotis. Biasanya ia menikmati senja di Bukit Tenau dan Bukit Hiliwuku yang tak kalah indah dan mempesonanya.
Indah memang sore itu. Namun, keindahan senja di Bukit Wairinding tak seindah suasana hati Rambu saat itu. Sebab, senja di Bukit Wairinding telah berubah menjadi saksi kelabu tatkala Rambu dihujam oleh kata-kata Umbu yang memutuskannya secara tiba-tiba. Pedih. Sakit. Dan luka. Tapi tak berdarah.
Indah memang sore itu. Namun, keindahan senja di Bukit Wairinding tak seindah suasana hati Rambu saat itu. Sebab, senja di Bukit Wairinding telah berubah menjadi saksi kelabu tatkala Rambu dihujam oleh kata-kata Umbu yang memutuskannya secara tiba-tiba. Pedih. Sakit. Dan luka. Tapi tak berdarah.
"Rambu...." Kata Umbu pada Rambu.
"Iya sayang, ada apa?" Tanya rambu.
"Ada yang mau saya katakan pada Rambu"
"Aisss" kata Rambu sambil memukul testanya. "Kalau mau bicara, bicara sudah toh Umbu. Jangan buat kayak drama Korea nah. Bikin deg-degan saja" balas Rambu dengan candaan.
"Saya serius, Rambu"
"Iya, Umbu. Saya dengarkan Umbu kok. Omong sudah, Umbu!".
"Tapi Rambu janji dulu kalo Rambu tidak marah"
Mendengar kata "Rambu janji dulu kalo Rambu tidak marah" membuat Rambu sedikit curiga pada Umbu. Rambu berpikir bahwa Umbu telah selingkuh darinya dan baru kali ini ada kesempatan untuk jujur padanya.
"Iya, Umbu. Saya janji tidak marah kok. Apapun itu. Asal Umbu bicara jujur" kata Rambu sambil tersenyum.
Rambu begitu mencintai Umbu. Karena itu, kalau pun Umbu baru jujur sekarang ia tak mempermasalahkannya. Ia tidak pernah berpikir bahwa Umbu akan memutuskan hubungan mereka demi mengikuti panggilan hatinya untuk menjadi imam.
"Begini Rambu" kata Umbu dengan raut wajah yang serius. "Sebenarnya sudah lama saya ingin bicarakan hal ini pada Rambu" lanjut Umbu.
"Lalu?" Tanya Rambu memotong pembicaraan Umbu.
"Tapi saya takut menyakiti perasaan Rambu. Rambu terlalu baik buat saya" balas Umbu.
"Iya, trus sebenarnya Umbu mau omong apa ini?" Tanya Rambu penasaran.
"Rambu tahu toh saya punya cita-cita dari dulu ingin jadi imam. Tapi Rambu juga tahu kalo selama ini saya sayang rambu. Saya sudah berdoa pada Tuhan, saya sudah minta petunjuk dari-Nya. Dan saya sudah putuskan, hubungan kita berakhir sampai di sini. Kita putus, Rambu" ucap Umbu dengan suara terbata-bata.
Tiga kata terakhir yang Umbu ucapkan membuat hati Rambu tersayat. Sakit. Pedihnya tak dapat ia tahan. Perlahan bening-bening kristal dari dalam matanya mulai berjatuhan. Ia mencoba menahan luka yang tumbuh bersamaan dengan hilangnya harap pada seorang yang ia kagumi itu. Tapi apa daya, untuk pertama kalinya Rambu menangis karena cinta.
Rambu ingin sekali mengatakan sesuatu pada Umbu. Tapi tak bisa. Tenggorokannya kering. Ia tak mampu bersuara. Mulutnya seakan dilakban oleh kenyataan pahit hidupnya yang harus putus dengan cinta pertama dan mungkin satu-satunya pacar dalam hidupnya selama ia sekolah.
Melihat Rambu yang meneteskan air mata, Umbu jadi terharu. Sedih. Tapi tak bisa berbuat apa-apa. Sebab keputusannya untuk mengikuti panggilan Tuhan sudah bulat. Ia harus rela memberikan luka pada Rambu meski ia sangat menyayanginya.
"Kalau Kau mau membenciku, bencilah Aku Rambu. Kalau jua Kau mau marah, marahlah Rambu! Keluarkan semua amarah dan emosimu padaku. Aku siap terima dengan lapang dada. Sebab saya tahu saya salah. Salah mencintaimu sampai membuatmu terluka begini"
"Tidak Umbu. Tidak. Aku sudah cukup bahagia memilikimu selama kurang lebih 3 tahun, sejak kita masih jadi siswa baru" balas rambu dengan sedikit air mata. "Kau ingat Umbu, waktu awal-awal kita kenalan dulu? Waktu itu Kau menjadi salah satu manusia paling rajin di muka bumi ini". Lanjut Rambu.
"Haha kenapa?" Tanya Umbu pura-pura. Hanya agar luka dan kesedihan rambu bisa terobati.
"Ya karena Kamu rela menerjang badai walau ditempat tinggalmu Kau dilarang untuk mengantar pacar pulang"
Kemudian mereka tersenyum. Lalu tertawa bersama.
"Kamu marah padaku?" Tanya Umbu.
Suasana ditempat itu kini jadi hening. Diam. Membisu. Bahkan suara jangkrik yang sedari tadi bernyanyi mendadak sunyi.
"Kamu marah padaku?" Tanya Umbu lagi.
Mata Rambu masih tampak merah. Air matanya yang hendak menetes, sebisa mungkin ia tahan. Kini ia telah menjelma menjadi makhluk paling menderita di bumi ini. Berbalik 180 derajat saat ia menikmati masa indahnya bersama Umbu dihari-hari kemarin.
Dibelainya rambut Rambu, kemudian Umbu mengecup kening Rambu lalu berkata "maafkan aku yah, Rambu. Maafkan aku yang harus meninggalkanmu bersama luka. Bila Kau rindu, telfon saja aku. Tak mengapa kok. Aku selalu ada untukmu, tapi tidak seperti dulu lagi".
"Iya tidak apa-apa, Umbu" balas Rambu sambil tersenyum. "Apa yang dipisahkan oleh semesta, janganlah dipaksakan manusia" lanjut Rambu. Air matanya tak lagi tampak. Mungkin Rambu sudah bisa mengikhlaskan kepergian Umbu yang harus memilih mengikuti panggilannya dari pada memilih dirinya.
"Kamu marah padaku?" Tanya Umbu lagi untuk yang ketiga kalinya.
Rambu tersenyum. Diangkatnya wajahnya kemudian menatap Umbu dalam-dalam. Tiba-tiba "prakkkk!!!" sebuah tamparan keras mendarat dengan mulus tanpa hambatan di pipi kanan Umbu.
"Lahu mamarung!!! Sa tidak apa-apa wanggu paddu nikawai. Hilli pa arrang beli mamunyai. Na tambullak ra rara amuka hiana" ucap Rambu setelah menampar Umbu.
_________________The End_________________.
.
.
- Nb; if you don't have enough sense of humor, don't read until you're offended because you will get burned
Comments
Post a Comment