Mencumbu Aroma Kopi di Bibirmu

Setelah Semesta menyakinkanku bahwa kau baik-baik saja, akhirnya aku bisa menjawab pertanyaan darimu. "Kau mau tulis apa tentang hari ini?"

Aku bahkan tak tahu harus memulainya dari mana. Namun, keinginanku untuk mengabadikan senyummu dalam bingkai kata sudah kupikirkan sejak semula. Sejak beberapa gagal yang pernah ada, sejak tulisan-tulisan yang tak pernah kuselesaikan itu memanggilku lagi untuk menyebut namamu di dalamnya. Dan sejak kau akhirnya menepati kata-kata yang kau sebut itu sebagai janji.

Aku ingin menuliskanmu di sini, di lubuk hati yang paling dalam, tempat di mana aku dicampakkan berulang-ulang. Di sana, namamu telah ada sebelumnya sebagai sosok yang dikagumi berkat isi pikiranmu yang menamparku tanpa sengaja. Lalu kemudian kubiarkan kau menjadi angan yang tak pernah terwujud. 

Namun, tiba-tiba semuanya berubah. Kau berubah, aku berubah. Kita mengupayakan takdir kita agar tak sejalan dengan pikiran mereka-mereka yang menentang. Kita menerjang badai yang tak semestinya kita terima, terlebih kau yang seperti katamu, kau telah kehilangan beberapa yang pernah ada. Dan kau tahu? Kita sampai di sini karena kita bisa mengatasi segalanya, meski kehilangan itu mungkin meninggalkan lubang di hati.

"Kau mau tulis apa tentang hari ini?" pertanyaanmu semakin sering muncul dalam pikiranku. Tidak seperti biasanya saat kau bertanya tentang itu. Namun, beberapa hari terakhir, saat bulan telah berganti begitu cepat, pertanyaan itu bukan saja hadir sebagai kata yang harus kucarikan jawabannya, tapi juga hadir sebagai mimpi yang tak ingin lepas. Terlebih saat kau tak mampu kujumpai lewat jemari yang menari di layar ponselku. Namun, berkat jemari yang tak mampu menekan tombol video call itu pula, kau kutuliskan seperti ini:

Beberapa saat setelah kau memejamkan mata untuk mengistirahatkan lelah, kau tersadar dengan tangismu yang membuatku penasaran. Padahal, malam itu begitu romantis. Setidaknya itu menurutku yang baru pertama kali merasa bahagia karena seseorang rupanya mencintaiku lebih dari yang kubayangkan. Kau kupandangi begitu lama. Wajahmu, bibirmu, hingga lelahmu yang masih tersisa. Bahagiaku saat itu adalah ketika kita akhirnya berjumpa. Dalam diam, dalam ketenangan. Semuanya terencanakan dengan baik. 

Tiba-tiba, saat malam mulai larut, kau tersadar dengan air matamu yang tiba-tiba saja berlinang, di situ aku merasa takut. Terlebih lagi ketika beberapa kali kurayu dirimu untuk menceritakan perihal tangismu yang begitu tiba-tiba itu.

"Semalam aku menangisi seseorang. Seseorang di masa lalu yang dalam waktu dekat akan menikah," katamu tersedu-sedu. 

Beberapa saat lamanya kurayu dirimu agar tak lagi menangisi kehilangan yang pernah ada, namun tak mampu. Saat itu juga aku percaya kata-katamu tempo lalu saat kau menceritakan tentang betapa keras kepalanya dirimu saat kau beberapa kali membela diri ketika berhadapan dengan sesuatu yang tidak kau inginkan. 

"Kau memang keras kepala, sayang," gumamku dalam hati saat semua usahaku menenangkanmu berujung sia-sia. 

Pikiranku lari entah ke mana. Perasaan memaksaku untuk merasakan sakit. Namun, hati berkata lain. Ia mampu mengalahkan pikiran dan perasaanku agar menerima tangis itu sebagai luka di masa lalu yang sudah seharusnya diikhlaskan. 

"Maafkan aku, sayang. Sebab, di hadapanmu, aku menangisi orang lain," katamu setelah tangis di matamu berangsur mereda. 

"Tak apa sayang. Itu karena ia pernah begitu dalam di masa lalu."

"Aku menangisi orang lain saat kau bersamaku." Kristal cair di matamu kembali mengalir. 

Setelah berdamai dengan pikiranku kemudian kau kurangkul. Lalu kubisikkan kata-kata yang mungkin datangnya berasal dari ikhlas yang paling rela untuk tangismu malam itu. 

"Tak apa, sayang. Tangismu itu adalah pertanda bahwa kau telah ikhlas melepaskannya bahagia bersama orang lain."

Malam semakin larut. Kau masih kupandangi. Sesekali kita tersenyum. Lalu tanpa aba-aba kita semakin dekat. Begitu dekat. Nafas kita seakan terhenti. Kita telah terhipnotis oleh rasa yang membuncah, hingga akhirnya aroma kopi di bibirmu telah meruntuhkan hatiku. 

Kita kini telah menjelma menjadi sisa-sisa kenangan yang suatu saat nanti akan dikenang sebagai suka yang paling bahagia. Setelah hatimu berduka atas rasa kehilangan yang tak rela, bahagia tak terkira datang menghampiri. Dan aku, lelaki kurus kering itu, telah kau miliki seutuhnya. 

...
Sebagian teks hilang...,





Comments

Popular posts from this blog

Buah Nahu, tapi Bukan Buah Sekarang

Menggali Akar Kekerasan Seksual di Waingapu: Normalisasi Konten Seksis di Media Sosial sebagai Pemicu yang Terabaikan?

Humba yang Tersisa di Kepala