Bukan Ciuman Yudas

Setelah melewati Rabu yang kelabu, 
Dengan abu di keningmu,
Kini kau inginkan kakimu pun dibasuh,
Pada Kamis yang putih.

Kau lupa, bahwa setelahnya pengkhianatan telah direncanakan,
Dengan segudang senyum yang dipaksakan,
Luka itu kau lupakan. 
 “Tuhan, Engkau hendak membasuh kakiku?” kemudian tanyamu menirukan Petrus. 
 
Sampai di sini, di tempat yang paling khianat itu, kau masih berpura-pura: menempatkan senyum di bibir, menuliskan bait demi bait agar story WhatsAppmu tak ketinggalan cerita. 
 
Dengan baju putih seputih Kamis putih, kau kenakan kemeja itu, lalu di depan gereja, kau bersukacita. Dan lupa bahwa di samping gereja, di persimpangan-persimpangan jalan, mereka yang kurang beruntung kau temui. Bahkan, kau tutup senyummu dengan pura-pura tak melihat. 

Sampai di sini, “Tuhan, Engkau hendak membasuh kakiku?” tanyamu lagi seakan tak berdaya.

Dan saat kau sadar, kau tak lagi bisa menutupi dukamu dengan senyum, kau tak bisa lagi menyembunyikan dirimu dengan terus memohon. “Tuhan, jangan hanya kakiku saja, tetapi juga tangan dan kepalaku!”

Namun, “Barangsiapa sudah mandi, cukuplah ia membasuh kakinya, karena ia sudah bersih seluruhnya. Kamu pun sudah bersih, hanya tidak semua!” Yesus tahu siapa yang akan menyerahkan Dia; karena itu Ia berkata, “Tidak semua kamu bersih.”

Tapi, kita ini manusia yang penuh tragedi
Saat suara-suara kritis berujung jeruji
Nurani kita dibiarkan terkebiri
Oleh moral harga mati

Kita ini manusia yang penuh tragedi
Saat tikus kantor ketahuan korupsi
Hukum negara tak ingin campuri
Sebab telah diimingi janji 

Saat teriakan massa inginkan henti
Suara kritis dianggap komedi
Hutan dan tanah adat dibabat mati
Oleh politikus berdasi rapi

Lalu di mana gereja?
Gereja bukanlah gedungnya
Tetapi buka pintunya
Lihat orangnya
Itulah gereja.

Manakala mereka yang datang karena tulis buku mingguan, sesungguhnya yang ditakutkan adalah hukuman. Demikian juga yang berangkat karena seseorang, bukan karena sesuatu, yang datang selfie, sementara peribadatan berlangsung, atau yang datang setelah marah-marah dari rumah. 

Bukankah hari Minggu adalah hari yang baik untuk mengaku dosa?
Maka berjalanlah ke sana dari hatimu dan tebarkan senyummu yang paling tulus. 

Comments

Popular posts from this blog

Buah Nahu, tapi Bukan Buah Sekarang

Menggali Akar Kekerasan Seksual di Waingapu: Normalisasi Konten Seksis di Media Sosial sebagai Pemicu yang Terabaikan?

Humba yang Tersisa di Kepala