Catatan Akhir Tahun 2024
Saya, tidak secara konsisten menulis catatan akhir tahun. Saya juga sudah jarang menulis, karena tuntutan pekerjaan lebih memberi beban untuk dipikirkan. Namun, catatan ini bukan tentang pekerjaan. Saya bisa pastikan, bahwa dalam semua tulisan anga-anga¹ saya, tidak ada yang berkaitan dengan pekerjaan. Ini adalah cerita saya, cerita singkat untuk tahun 2024 yang panjang. Kau bisa membacanya kurang lebih hanya 5 menit. Kalau kau mau membaca cepat, baca saja di bagian akhir tulisan ini. Itu adalah rangkuman dari semua isi catatan akhir tahun ini.
Barangkali, tahun 2024 adalah tahun terbaik dalam hidup saya. Teman-teman saya, banyak yang lolos beasiswa LPDP. Teman-teman saya, banyak yang lolos CPNS sampai pada tes terakhir, yang pengumumannya masih Januari tahun depan. Teman-teman saya, banyak yang sudah berkeluarga. Teman-teman saya, banyak yang melupakan utangnya, eh, ini yang tulis skrip siapa, sih?
Pada tahun yang sama, Taman Baca yang dibangun bersama seorang teman dan orang baik lainnya di tahun sebelumnya, membuat saya lebih sering membersamai anak-anak. Awalnya, Taman Bacaan ini berjalan dengan lancar dan baik-baik saja. Sebab, meminjam kata teman saya, ini adalah pelayanan. Anak-anak pun datang dengan senang hati. Saking banyaknya, bahkan dalam presensi yang sempat dibuat, jumlah anak yang terdaftar sebanyak 70-an anak. Keren, bukan?
Banyaknya anak membuat saya kewalahan mengajari mereka. Sebab, anak-anak mesti dibagi menjadi beberapa kelompok: TK/PAUD, SD kelas rendah, SD kelas tinggi dan SMP. Barangkali inilah yang dinamakan dinamika. Anak-anak yang tadinya berjumlah 70-an diseleksi oleh alam, hingga yang secara konsisten datang berjumlah 20-an, lalu turun belasan. Beberapa kali pertemuan, malah lebih sering tidak sampai 10 anak. Tidak apa-apa. Ini adalah bentuk pelayanan, sehingga mereka yang tidak datang, pun tidak dipaksakan untuk selalu datang. Konsepnya adalah kita belajar bersama. Hanya itu.
Menarik memang, ketika membangun Taman Baca ini. Waktu istirahat saya di hari Minggu sudah makin berkurang. Kegiatan luar saya di hari Minggu, sebisa mungkin saya hindari. Apapun yang terjadi, hari Minggu harus bisa membersamai anak-anak. Dalam perjalanan waktu, Taman Baca ini banyak sekali dibantu oleh teman-teman, orang baik, yang rela meluangkan waktu untuk datang dan mengajari mereka, pun yang rela mengeluarkan uang untuk membelikan mereka peralatan tulis. Khusus yang ini, saya secara pribadi masih akan sangat mengharapkan akan ada orang-orang baik yang mau berbagi.
Memang, dalam 'berbagi' ini, saya tidak menjanjikan apa-apa, tetapi saya cukup yakin, anak-anak terbantu karenanya. Saya pun demikian. Anak-anak terbantu, mereka menjadi rajin datang taman baca. Dan, ya, saya akan berjibaku dengan, materi apa yang akan saya berikan pada mereka. Singkatnya, tahun 2024 ini, Taman Baca Kilimbatu sudah lebih dari satu tahun berdiri. Pernah ada yang berniat membantu mengajar(i) anak-anak, tapi pada akhirnya mengurungkan niat karena terlebih dahulu tanya gaji berapa hehe. Bila kau membaca tulisan ini, dan berniat membantu anak-anak, feel free to contact me, tapi yang pasti, tidak ada gajinya. Malah sebaliknya, uangmu akan lebih sering terkuras untuk anak-anak.
Oh, iya, tahun 2024, saya mulai menabung. Lagi. Perencanaan awal, ya, dimulai di awal tahun. Ternyata tidak berjalan mulus. Akhirnya, dimulai pada bulan April. Pada bulan-bulan sebelumnya, adalah usaha untuk mengganti hp, karena rasanya sudah lama sekali saya memakai hp ini, sejak awal-awal kuliah. Pada bulan-bulan sebelumnya juga, banyak pengeluaran tak terduga. Seakan hilang begitu saja semua uang hasil kerja. Untuk mengantisipasi pengeluaran tak terduga, saya mengunduh aplikasi perbankan. Namun, rasanya pengeluaran saya jauh lebih banyak daripada penghasilan, ketika melihat catatan keuangan. Bayangkan! Dalam tiga bulan terakhir, terhitung sejak tulisan ini kau baca, pengeluaran saya sudah bisa digunakan untuk beli cash motor. Entah keluar dari mana lagi uang itu, karena pemasukan hanya sedikit.
Barangkali, inilah yang dinamakan kehidupan. Kita harus mampu menghidupi jiwa-jiwa petarung dalam diri kita. Sebab, kata orang, kita terlalu muda(h) untuk tidak mengambil resiko. Dan, inilah saya. Apapun resiko yang telah saya ambil, yang telah saya terima, saya jalani tidak semata untuk kebahagiaan saya sendiri. Saya dengan bangga mempersembahkan pada kalian yang membaca tulisan ini, bahwa saya juga sama seperti kalian, adalah generasi sandwich hehe.
Bagaimana dengan bulan-bulan sebelumnya? Ah, saya tidak ingin bernostalgia dengan masalalu. Biarlah masa lalu menjadi masa lalu, yang berjasa untuk mengantar saya pada masa kini.
Pada bulan yang sama saat saya ingin menabung, saya 'harus' menyisihkan 95% dari gaji saya untuk diberikan pada bank. Saya tidak ingin bercerita banyak tentang ini. Sebagai generasi sandwich, ini semacam kewajiban yang harus dilakukan. Ini semacam, ya, jalannya memang demikian, tapi tidak apa-apa, tahun ini kita wujudkan cita-cita orangtua dan keluarga saja dulu, yah. Kapan-kapan baru wujudkan cita-cita sendiri. Hehe.
Hmmmm, sedikit cerita, pertengahan November kemarin, ada bazar buku yang di adakan di aula STPMD Jogja. Ada banyak buku murah dari penerbit keren Indonesia, yang dijajakan di sana. Saya kemudian menanyakan pada beberapa kawan rekomendasi buku apa saja yang harus saya beli. Setelah mendapatkan rekomendasinya, saya hitung harga realnya hampir mencapai satu juta. Saya sangat ingin membeli buku yang saya list tersebut.
Namun, satu hari sebelum saya mengkonfirmasi jenis buku yang ingin saya beli, uang yang saya siapkan malah dipakai untuk keperluan lain. Sebuah keperluan yang tidak saya butuhkan, tapi saya lagi-lagi harus mengorbankan keinginan untuk membahagiakan diri sendiri dengan merelakan uang yang ada, untuk sesuatu yang disebut 'menolong' itu. Dari cerita ini, saya akhirnya menyadari bahwa saya tidak lagi menempatkan standar pencapaian di umur berapa saya harus mendapatkan apa. Yang jelas, saya harus membatasi diri, untuk keinginan kecil yang hanya berdampak pada diri saya sendiri, menjadi keinginan besar, yang dirasakan dampaknya oleh orang lain.
Huffff, capek juga, ya, menulis catatan singkat ini. Pada akhirnya, kau hanya perlu tahu, bahwa 2024 saya, tidak buruk-buruk amat. Hanya sedikit berat. Dikejar deadline bertubi-tubi. Belajar menulis dari orang-orang yang lebih baik. Belajar membuat script untuk video program bersama guru-guru. Belajar menulis cerita guru menjadi lebih baik lagi dari perspektif yang berbeda. Belajar mengelola emosi agar bisa terkontrol dengan baik. Belajar untuk tidak menggerutu akibat keteledoran sendiri yang selalu santai di h-1 deadline. Belajar banyak hal baik yang baik, maupun yang memberi pelajaran baik untuk tidak diulani lagi. Semoga 2025 menjadi lebih santai, aman dan luar biasa.
Singkatnya, kalau ada yang bilang, kita ini perintis, bukan pewaris, jangan terlalu percaya sampai terbuai. Sebab kita juga mewarisi kemiskinan secara turun temurun. Kita mewarisi nama baik orangtua. Kita mewarisi hutang keluarga. Kita mewarisi budaya patriarki. Kita mewarisi kabha mata² yang harus dijaga, apapun yang terjadi. Kita mewarisi sikap harus sopan pada para pejabat, yang harusnya melayani kita. Kita mewarisi perlakuan untuk mengkultuskan pemuka agama, yang dalam kotbah-kotbahnya selalu menceritakan yang baik dan yang sederhana. Kita adalah perintis sekaligus pewaris. Kita mewarisi banyak hal, yang bahkan bisa menghambat apa yang kita rintis untuk generasi kita selanjutnya. Kita...,
Kita ini apa?
.
.
.
Keterangan:
1. Tidak jelas. Sembarangan.
2. Harga diri
Comments
Post a Comment